October 10 2007
Terjerat Aliran Sesatkah?
Kemarin saat perjalanan mudik ke Brebes aku membeli koran Tribun Jabar edisi Minggu, 3 Oktober 2007. Waktu aku baca-baca ada hal yang menarik yang terdapat di koran tersebut yaitu di bagian Hotline Public Service. Judul dari artikel yang menarik tersebutadalah “Terjerat Aliran Sesat”. Berikut ini isi lengkap dari artikel tersebut :
“Kamu bisa memahami Al-Quran dalam waktu seminggu.” Siapa tidak tertarik pada perkataan seperti ini? Begitu pula Muhammad Idris-sebut saja namanya begitu. Dengan antusias Idris mengikuti pengajian yang diadakan Pak Hanafi, seorang lelaki berusia 50-an, berkacamata, berkulit putih, dan selalu memakai baju koko putih lengkap dengan sorban putihnya-ya, gambaran yang mengisyaratkan bahwa dia orang yang alim dan dalam keilmu agamanya.
Pengajiannya sendiri berlangsung aneh. Hanya satu muridnya: Idris, pemuda berusia 20 tahun itu. Pada pertemuan malam pertama pengajian itu, dan pada pertemuan kedua malam berikutnya, tidaklah terdapat hal-hal yang janggal. Materi pembahasannya hanya seputar akidah, ibadah, ma’rifah an-nafs, dan hubungan khalik dan makhluknya.
Nah, pada pertemuan ketiga, Pak Hanafi meminta Idris membuka Al-Qura 5:44 (Surat Al-Maidah) :
…Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir.“Orang yang memutuskan perkaranya atau mengikuti aturan-aturan hukum yang bukan aturan yang telah Allah sediakan maka merekalah orang-orang kafir dan sebaliknya orang-orang yang memutuskan perkara menurut hukum Allah, yaitu Al-Quran, maka dialah termasuk orang-orang yang beriman,” Kata Pak Hanafi.
Sampai disini, kata-katanya benar belaka.Namun tiba-tiba, Pak Hanafi mengajukan pertanyaan yang sangat di luar dugaan. “Nah, sekarang, apakah kamu termasuk orang yang beriman atau orang-orang kafir?”
Idris terkejut dan tidak bisa langsung menjawab. Kemudian jawabnya, “Tentunya saya orang yang beriman, Pak! Saya telah melaksanakan kewajiban saya sebagai orang Islam.”
“Darimana dasarnya kamu menyatakan diri kamu telah beriman?” Tanya Pak Hanafi.
Kali ini Idris tak menjawab.
“Apakah aturan yang kamu pakai sekarang ini adalah aturan Islam?”
“Maksud Bapak?”
“Aturan atau hukum yang kamu pakai sekarang ini apa?”
“Pancasila dan Undang-Undang Dasar.”“Nah, oleh karena itu, saya boleh menyatakan bahwa kamu belumah benar-benar beriman. Sebab, aturan yang kamu pakai adalah aturan produk manusia dan bukan aturan yang telah Allah sediakan untukmu. Karena kamu tidak berhukum dengan hukum Allah, maka sesuai dengan ayat yang tadi kamu baca, kamu termasuk golongan orang-orang kafir.”
PERCAKAPAN di atas saya kutip dari sebuah naskah yang hendak dibukukan, yang berisi memoar penulis ketika mengikuti sebuah aliran Islam yang, menurutnya kemudian, sesat. Percakapan seperti itu adalah awal dari tipikal sebuah jerat yang membawa Idris mengikuti aliran Islam yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Nama lembaga yang merekrutnya, nama-nama tokohnya, bahkan nama tempat aliran keagamaannya itu berada sengaja disamarkan oleh penulis. Meskipun demikian, dengan sangat mudah kita bisa menebak apa nama sesungguhnya lembaga itu–karena memang sudah cukup dikenal.
Saya mendapat kehormatan menjadi penyunting naskah tersebut. Dan ketika saya bertemu langsung dengan penulisnya, dugaan saya benar belaka. Mungkin ada rasa tak enak ketika ia memutuskan menggunakan nama-nama yang disamarkan, termasuk namanya sendiri. Tapi ia mengaku tidak takut kalau nantinya ketahuan siapa ia sebenarnya.
“Saya merasa sangat yakin bahwa apa yang saya lakukan ini adalah suatu kebenaran. Dan inilah jalan dakwah yang saya tempuh, inilah ladang akhirat yang saya garap,” katanya. (*)Hermawan Aksan
Ya, kira-kira seperti itulah artikel yang aku baca di koran Tribun Jabar kemarin. Tujuanku menuliskannya di blog ini cuma ingin saling berbagi mengenai hal-hal baru yang kita dapatkan sehingga dapat bermanfaat di kemudian hari. Mungkin temen-temen ada yang mau mengasih tanggapan dari artikel di atas? Silakan saja… ^^

(1 votes, average: 4 out of 5)









Waduh …
Sesat pa nggak yah …
Fauzan : Hanya Allah yang tau…. ^^
yg pasti penafsiran Al-qur’an g bisa hanya dengan melihat redaksionalnya aja
ada banyak hal yg harus diilmui…makanya g semua orang bisa jadi ahli tafsir
kadang ada beberapa hal yg perlu ijtihad(ket:ijtihad adalah sumber hukum islam yg ke-3 setelah Al-qur’an & As-Sunnah)
wallahu’alam
bijaksana : thx atas pendapatnya
li sekitar mu banyak tuh.. hati2 buka mata telinga.. :p
adheet : hwhw,, mata dan telingaku selalu terbuka kok,,, thx atas nasihatnya.
wah, adheet kok serem banget ya ngomongnya…
hati2 jangan suka menghakimi seseorang itu kafir atau tidak
kalo tidak salah , Allah berkata barang siapa yang berkata suatu kaum adalah kafir maka sesungguhnya orang yang mengatakannya lah yang kafir
(mungkin yang mengatakan kafir gak punya landasan yang jelas, jadi ngasal gitu maksudnya…)
ya… karena keterbatasan ilmu, saya hanya bisa ambil hikmahnya, intinya
“JANGAN ASAL MENYATAKAN SESEORANG KAFIR ATAU TIDAK”
karena harus ada alasan yang jelas yang sesuai Al-Qur’an dan Sunnah..
peace…
Walllahu alam
vani if 01 : hwhw,,,, peace juga,,, oleh karena itulah kita mesti belajar dan belajar supaya tidak bisa dibodohi…